Kue serabi merupakan salah satu jajanan tradisional Indonesia yang terkenal dengan cita rasanya yang khas, perpaduan gurih santan dan manisnya kuah gula. Kue berbahan dasar tepung beras ini banyak ditemukan di berbagai daerah, terutama Jawa, dengan ciri khas dan cara penyajian yang berbeda-beda.
Seiring perkembangan zaman, serabi mengalami berbagai perubahan, mulai dari penggunaan bahan tambahan hingga variasi topping modern. Meskipun demikian, kue ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.
Asal-Usul Kue Serabi
Kue serabi, yang juga dikenal dengan nama srabi atau surabi, merupakan jajanan tradisional yang berasal dari budaya kuliner Jawa. Kue ini diperkirakan telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan di Jawa dan berkembang sebagai makanan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari maupun berbagai kegiatan adat. Namun, pencipta dan waktu pertama kali dibuatnya serabi belum diketahui secara pasti.sumber: Bobby Susanto dan Roki Eka Putra-RRI.(2025)
Salah satu catatan mengenai keberadaan serabi terdapat dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa yang disusun pada 1814–1823 atas perintah Pakubuwana V. Dalam karya tersebut, serabi disebut sebagai salah satu jajanan yang dijual di halaman rumah ketika berlangsung pertunjukan wayang kulit. Catatan ini menunjukkan bahwa serabi telah menjadi bagian dari kehidupan kuliner masyarakat Jawa pada awal abad ke-19.sumber: Universitas STEKOM Semarang.(2023)
Selain sebagai kudapan, serabi juga memiliki hubungan dengan tradisi masyarakat. Di sejumlah daerah, kue ini disajikan dalam kegiatan adat, selamatan, dan ritual sebagai bagian dari sajian tradisional. Praktik tersebut memperlihatkan bahwa serabi tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan dan budaya masyarakat setempat.sumber: Dina Kebudayaan.(2026)
Perkembangan Kue Serabi di Indonesia
Seiring waktu, serabi menyebar dan berkembang di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Setiap wilayah memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi bahan, ketebalan, rasa, maupun cara penyajiannya. Dua jenis yang paling dikenal adalah serabi Solo dan serabi Bandung, yang memiliki karakter berbeda meskipun sama-sama menggunakan tepung beras dan santan sebagai bahan dasar.sumber: Traveloka.(2026)
Di Solo, perkembangan serabi menjadi usaha kuliner yang terkenal ditandai dengan munculnya Serabi Notosuman. Berdasarkan data Warisan Budaya Indonesia, usaha ini dirintis oleh pasangan Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan pada 1923. Awalnya, mereka membuat apem berdasarkan pesanan tetangga, kemudian mengembangkan kue berbentuk lebih pipih yang akhirnya dikenal sebagai serabi. Nama Notosuman diambil dari nama kawasan tempat usaha tersebut pertama kali berkembang, yang kini dikenal sebagai Jalan Mohammad Yamin, Surakarta.
Sementara itu, di Bandung dan wilayah Sunda, serabi berkembang dengan bentuk yang cenderung lebih tebal dan memiliki cita rasa gurih. Serabi Bandung biasanya disajikan dengan kuah kinca berbahan gula merah atau topping oncom. Perbedaan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat di setiap daerah menyesuaikan serabi dengan selera dan tradisi kuliner masing-masing.sumber: Bobby Susanto dan Roki Eka Putra-RRI.(2025)
Ciri Khas dan Bahan Pembuatan Kue Serabi
Kue serabi memiliki bentuk bulat dengan tekstur berpori, bagian tengah yang lembut, serta aroma khas santan. Bahan utama yang digunakan secara tradisional adalah tepung beras, santan kelapa, dan garam. Pada beberapa resep, adonan juga menggunakan gula atau bahan pengembang untuk menghasilkan tekstur yang sesuai.
Proses memasak serabi secara tradisional menggunakan wajan kecil atau cetakan dari tanah liat yang diletakkan di atas tungku. Penggunaan arang menghasilkan panas yang membantu mematangkan adonan sekaligus memberikan aroma khas. Teknik ini masih dipertahankan oleh sejumlah pembuat serabi tradisional hingga sekarang.sumber: Bobby Susanto dan Roki Eka Putra-RRI.(2025)
Jenis-Jenis Kue Serabi di Indonesia
Kue serabi memiliki berbagai jenis yang berkembang berdasarkan tradisi dan bahan lokal setiap daerah. Berikut beberapa variasi yang dikenal masyarakat:
1. Serabi Solo
Serabi Solo dikenal dengan bentuk yang relatif tipis, tekstur lembut, serta bagian pinggir yang sedikit renyah. Salah satu yang terkenal adalah Serabi Notosuman, yang dibuat menggunakan tepung beras, santan, gula, dan pandan. Serabi ini biasanya digulung dan dibungkus menggunakan daun pisang.
2. Serabi Bandung
Serabi Bandung memiliki bentuk lebih tebal dengan cita rasa gurih. Kue ini umumnya disajikan dengan kuah kinca dari gula merah atau topping oncom. Dalam perkembangannya, serabi Bandung juga memiliki berbagai topping modern seperti cokelat, keju, dan sosis.
3. Serabi Kocor Yogyakarta
Serabi kocor merupakan salah satu variasi serabi tradisional Yogyakarta yang disajikan bersama kuah manis. Kue ini masih mempertahankan teknik pemanggangan tradisional dan berkaitan dengan tradisi kuliner masyarakat setempat.
4. Serabi Kalibeluk Batang
Serabi Kalibeluk merupakan kuliner khas Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Menurut cerita sejarah lokal yang diberitakan ANTARA, serabi ini dikaitkan dengan masa Mataram Islam dan sosok Nyai Randinem. Kisah tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan dan identitas kuliner masyarakat Kalibeluk.
Kesimpulan
Kue serabi merupakan jajanan tradisional Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam budaya kuliner Jawa. Keberadaannya tercatat dalam Serat Centhini pada awal abad ke-19 dan terus berkembang menjadi berbagai jenis serabi khas daerah, seperti serabi Solo, Bandung, Yogyakarta, dan Batang. Penggunaan bahan lokal, teknik memasak tradisional, serta variasi rasa menjadikan serabi sebagai salah satu warisan kuliner yang tetap digemari hingga saat ini.
