Sejarah Kuliner Bakpia Kacang Hijau: Dari Akulturasi Tionghoa hingga Menjadi Ikon Kuliner Yogyakarta
Mengenal Bakpia Kacang Hijau
Bakpia merupakan salah satu makanan yang sangat identik dengan Yogyakarta. Bentuknya umumnya bulat dan pipih dengan kulit pastry yang membungkus isian. Salah satu isian yang paling dikenal adalah kacang hijau yang dihaluskan dan dicampur dengan gula. Hingga sekarang, bakpia kacang hijau masih menjadi salah satu pilihan oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan ketika berkunjung ke Yogyakarta.sumber: Kemendikdasmen – Agustina Dwi Rahayu.(2018)
Bakpia Yogyakarta juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016, dengan domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Penetapan tersebut menunjukkan bahwa bakpia tidak hanya dianggap sebagai makanan populer, tetapi juga memiliki nilai budaya dalam perkembangan kuliner Yogyakarta.
Asal-Usul Bakpia dari Tradisi Tionghoa
Meskipun saat ini sangat dikenal sebagai makanan khas Yogyakarta, bakpia sebenarnya bukan makanan yang berasal dari Yogyakarta sejak awal. Bakpia merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan budaya lokal Yogyakarta.
Menurut sumber dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, bakpia menjadi salah satu contoh perpaduan cita rasa Tionghoa dengan budaya lokal. Resep bakpia dibawa oleh perantau Tionghoa ke Yogyakarta dan kemudian mengalami penyesuaian dengan lingkungan serta selera masyarakat setempat.sumber: Dinas Kebudayaan.(2016)
Nama bakpia sendiri berkaitan dengan istilah dalam bahasa Hokkian. Sumber Badan Bahasa menjelaskan bahwa makanan ini diadopsi dari makanan khas Tiongkok yang dikenal sebagai “Tou Luk Pia”, sementara istilah bakpia berkaitan dengan kata bak yang berarti daging dan pia yang berarti kue. Dalam perkembangannya di Yogyakarta, isiannya kemudian berubah menjadi kacang hijau yang ditumbuk dan dicampur dengan gula.sumber: Kemendikdasmen – Agustina Dwi Rahayu.(2018)
Perubahan Isian Menjadi Kacang Hijau
Salah satu perubahan paling penting dalam sejarah bakpia adalah pergantian isian dari daging menjadi kacang hijau. Bakpia yang dibawa dari tradisi kuliner Tionghoa pada awalnya memiliki hubungan dengan makanan yang menggunakan isian daging. Ketika berkembang di Yogyakarta, isi tersebut disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam. Kacang hijau kemudian digunakan sebagai isian sehingga bakpia dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.sumber: UGM Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan.(2021)
Baca Juga: Resep Bakpia Kacang Hijau
Perubahan tersebut bukan sekadar perubahan bahan makanan, tetapi juga menjadi contoh akulturasi budaya melalui kuliner. Makanan yang berasal dari tradisi Tionghoa mengalami penyesuaian dengan kebiasaan masyarakat Jawa dan akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner Yogyakarta. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bahkan menggambarkan bakpia sebagai salah satu bentuk toleransi dan perpaduan budaya antara masyarakat Tionghoa dan Jawa.sumber: Dinas Kebudayaan.(2016)
Perkembangan Bakpia di Yogyakarta
Perkembangan bakpia di Yogyakarta mulai terlihat pada sekitar tahun 1940-an. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencatat bahwa seorang perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok membawa resep bakpia dan memulai usaha di Kampung Suryowijayan, Mantrijeron, Yogyakarta. Ia menyewa tempat milik Niti Gurnito untuk menjalankan usahanya. Setelah Kwik Sun Kwok pindah, usaha tersebut dilanjutkan oleh Niti Gurnito dan kemudian dikenal sebagai Bakpia Tamansari atau Bakpia Niti Gurnito.
Perkembangan berikutnya terjadi di kawasan Pathuk. Liem Bok Sing, yang memiliki hubungan dagang dengan Kwik Sun Kwok, mempelajari pembuatan bakpia dan kemudian merintis usahanya sendiri. Pada 1948, ia mulai membuat bakpia, dan pada 1955 keluarganya pindah ke kawasan Pathuk dan melanjutkan usaha tersebut. Dari sinilah kawasan Pathuk berkembang menjadi salah satu sentra produksi bakpia yang paling terkenal di Yogyakarta.sumber: Dinas Kebudayaan.(2016)
Nama Bakpia Pathuk kemudian semakin dikenal karena banyak produsen bakpia bermunculan di kawasan tersebut. Pada masa ketika produk-produk tersebut belum memiliki merek dagang yang kuat, nomor rumah produsen kemudian digunakan sebagai identitas, sehingga muncul nama seperti Bakpia Pathuk 25, 55, 75, dan 125.sumber: Kemendikdasmen – Agustina Dwi Rahayu.(2018)
Bakpia Kacang Hijau Menjadi Ciri Khas
Kacang hijau kemudian menjadi salah satu ciri yang paling melekat pada bakpia Yogyakarta. Isian tersebut dibuat dari kacang hijau yang diolah hingga lembut dan biasanya dicampur dengan gula sehingga menghasilkan rasa manis yang khas. Bakpia kemudian dipanggang bersama kulit tepung hingga menghasilkan bentuk bulat pipih dengan bagian luar yang matang dan bagian dalam yang lembut.
Penelitian dari INSTIPER Yogyakarta juga menunjukkan bahwa bakpia isi kacang hijau masih menjadi objek pengembangan dalam penelitian pangan. Penelitian tersebut mengkaji penggunaan margarin pada kulit dan gula palem pada bagian isian, menunjukkan bahwa bakpia kacang hijau terus mengalami inovasi dalam hal bahan, rasa, tekstur, dan karakteristik produk.sumber: INSTIPER – Hangara Baja Nayotama, dkk.(2023)
Dari Kacang Hijau hingga Beragam Varian
Seiring meningkatnya popularitas bakpia, isian yang digunakan tidak lagi terbatas pada kacang hijau. Berbagai produsen mulai mengembangkan rasa seperti cokelat, keju, durian, ubi ungu, moka, hingga green tea. Meskipun demikian, bakpia kacang hijau tetap menjadi salah satu varian yang dianggap paling klasik dan identik dengan bakpia tradisional Yogyakarta.sumber: Kemendikdasmen – Agustina Dwi Rahayu.(2018)
Bakpia sebagai Identitas Kuliner Yogyakarta
Kini, bakpia telah berkembang jauh dari sekadar makanan yang dibuat dalam skala rumah tangga. Kawasan Pathuk dan berbagai sentra produksi bakpia di Yogyakarta menjadi bagian dari kegiatan ekonomi dan pariwisata daerah. Bakpia juga menjadi salah satu makanan yang hampir selalu dikaitkan dengan oleh-oleh khas Yogyakarta.sumber: UGM Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan.(2021)
Yang menarik, perjalanan bakpia menunjukkan bahwa sebuah makanan dapat mengalami perubahan identitas melalui proses akulturasi. Bakpia memiliki akar dari tradisi kuliner Tionghoa, tetapi setelah mengalami penyesuaian bahan dan proses produksi di Yogyakarta, makanan tersebut kemudian diterima sebagai bagian dari kuliner khas daerah tersebut. Karena itu, sejarah bakpia bukan hanya mengenai makanan, tetapi juga mengenai pertemuan budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.sumber: Dinas Kebudayaan.(2016)
Kesimpulan
Sejak berkembang di Yogyakarta pada sekitar dekade 1940-an, bakpia kemudian tumbuh menjadi industri rumahan, terutama di kawasan Pathuk. Perkembangan tersebut membuat bakpia semakin dikenal dan akhirnya menjadi salah satu ikon kuliner serta oleh-oleh khas Yogyakarta. Meskipun saat ini tersedia berbagai rasa modern, bakpia kacang hijau tetap menjadi varian klasik yang mempertahankan hubungan bakpia dengan sejarah awal perkembangannya di Yogyakarta.sumber: Dinas Kebudayaan.(2016)
