Sejarah dan Budaya Kuliner Ayam Betutu
Ayam betutu merupakan salah satu kuliner tradisional Bali yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Bali. Betutu pada dasarnya bukan semata-mata nama hidangan, melainkan istilah yang berkaitan dengan proses pengolahan daging ayam atau bebek menggunakan bumbu khas Bali yang lengkap. Pemerintah Provinsi Bali juga menjelaskan bahwa istilah betutu merujuk pada proses pengolahan, sehingga setiap daerah di Bali dapat memiliki variasi betutu dengan teknik dan karakter yang berbeda.sumber: I. Made Purna, Kadek Dwikayana.June 30, 2019 // DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.478
Hubungan dengan Tradisi Keagamaan
Dalam perkembangan awalnya, betutu memiliki fungsi yang erat dengan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. Purna dan Dwikayana mencatat bahwa betutu pada awalnya digunakan sebagai makanan persembahan kepada Ida Hyang Widhi Wasa, kemudian makanan tersebut disantap bersama-sama. Dengan demikian, makanan tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi bagian dari hubungan manusia dengan Tuhan dan kehidupan sosial masyarakat.
Penggunaan betutu dalam konteks keagamaan juga menunjukkan bagaimana makanan dapat memiliki makna simbolis dalam kebudayaan Bali. Dalam masyarakat Bali, makanan dapat berkaitan dengan sistem religi, struktur sosial, ekonomi, hingga hubungan dengan dunia pariwisata. Karena itu, betutu dapat dipahami sebagai bagian dari budaya material sekaligus praktik sosial masyarakat Bali.sumber: I Made Purna, Kadek Dwikayana.2019.Patanjala Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
Dari Hidangan Ritual hingga Hidangan Masyarakat
Fungsi betutu kemudian mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat. Menurut Purna dan Dwikayana, setelah digunakan sebagai makanan persembahan, betutu berkembang menjadi hidangan bagi raja dan keluarganya serta memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Dalam perkembangannya, betutu kemudian semakin luas dikonsumsi oleh masyarakat umum.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa betutu pada awalnya dikenal di daerah Gianyar, kemudian penyebarannya meluas sehingga dikenal oleh masyarakat Bali secara lebih luas. Salah satu perkembangan penting terjadi pada 1976, ketika Ni Wayan Tempeh atau Men Tempeh dari Abianbase, Gianyar, membuat betutu ayam dan bebek untuk dikomersialkan. Sementara itu, betutu yang digunakan sebagai sarana upacara telah dikenal lebih lama.sumber: I Made Purna, Kadek Dwikayana.2019.Patanjala Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
Dari Hidangan Ritual hingga Hidangan Masyarakat
Fungsi betutu kemudian mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat. Menurut Purna dan Dwikayana, setelah digunakan sebagai makanan persembahan, betutu berkembang menjadi hidangan bagi raja dan keluarganya serta memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Dalam perkembangannya, betutu kemudian semakin luas dikonsumsi oleh masyarakat umum.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa betutu pada awalnya dikenal di daerah Gianyar, kemudian penyebarannya meluas sehingga dikenal oleh masyarakat Bali secara lebih luas. Salah satu perkembangan penting terjadi pada 1976, ketika Ni Wayan Tempeh atau Men Tempeh dari Abianbase, Gianyar, membuat betutu ayam dan bebek untuk dikomersialkan. Sementara itu, betutu yang digunakan sebagai sarana upacara telah dikenal lebih lama.sumber: I Made Purna, Kadek Dwikayana.2019.Patanjala Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
Bumbu dan Teknik sebagai Identitas Kuliner
Salah satu ciri utama betutu adalah penggunaan bumbu jangkep atau bumbu genep, yang terdiri atas berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, kencur, lengkuas, jahe, kunyit, daun jeruk, ketumbar, pala, merica, gula aren, garam, terasi, dan minyak kelapa. Komposisi tersebut menghasilkan karakter rasa yang kuat dan kompleks.
Teknik pengolahan juga menjadi bagian penting dari identitas betutu. Dalam penelitian Purna dan Dwikayana, terdapat beberapa teknik, mulai dari membakar langsung hingga menggunakan bara sekam. Perbedaan teknik tersebut menunjukkan bahwa betutu tidak harus dipahami sebagai satu resep yang seragam, karena tradisi memasaknya dapat berkembang sesuai dengan lingkungan dan kebiasaan masyarakat setempat.sumber: I Made Purna, Kadek Dwikayana.2019.Patanjala Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
Ayam Betutu dan Identitas Budaya Bali
Perkembangan betutu membuatnya tidak lagi hanya dikonsumsi dalam lingkungan keagamaan. Saat ini betutu dapat ditemukan di warung, restoran, dan hotel, serta menjadi salah satu kuliner yang diperkenalkan kepada wisatawan. Penelitian Universitas Udayana mengenai ayam betutu juga menyebutkan bahwa kuliner ini memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara dan dapat digunakan sebagai bagian dari strategi gastro-tourism untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.sumber: Ni Putu Ratna Dewi Gayatri, Ni Putu Arya Putri Awyawaharika.
