Rendang Sapi Bukan Sekadar Masakan: Simbol Budaya Dan Kearifan Minang

Sejarah Budaya Kuliner Rendang

Rendang berasal dari tradisi kuliner masyarakat minangkabau di sumatra barat. Bagi masyarakat Minang, rendang bukan sekadar hidangan berbahan daging, santan, dan rempah, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya dan berbagai kegiatan adat. Pemerintah melalui Warisan Budaya Takbenda juga menetapkan Randang sebagai warisan budaya dari Sumatera Barat pada 2013.

Menariknya, tidak ada tanggal pasti kapan rendang pertama kali diciptakan. Jejaknya justru dapat ditelusuri melalui sumber-sumber sejarah. Penelitian Fadly Rahman menemukan bahwa istilah dan bentuk masakan rendang telah memiliki jejak dalam kesusastraan Melayu klasik. Salah satu rujukan yang dibahas adalah Hikayat Amir Hamzah, yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-16, dan di dalamnya terdapat penyebutan daging yang direndang.

Pada awalnya, rendang juga tidak selalu menggunakan daging sapi seperti yang paling dikenal sekarang. Dalam sumber yang dibahas oleh penelitian tersebut, daging kambing disebut sebagai salah satu bahan rendang. Ini menunjukkan bahwa bentuk rendang mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu.Relevansi dan Filosofi Masakan Rendang

Cara Masak Rendang Sapi

Dari kebutuhan menjadi tradisi

Proses marandang, yaitu memasak santan dan rempah hingga kandungan airnya hampir atau seluruhnya menghilang, membuat rendang menjadi jauh lebih awet. Pemerintah melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat juga menjelaskan bahwa proses tersebut merupakan salah satu bentuk pengawetan makanan tradisional Minangkabau melalui pemanasan berulang.

Sejak dahulu, banyak orang Minangkabau melakukan perjalanan jauh untuk berdagang, bekerja, maupun mencari pengalaman di daerah lain. Rendang yang kering dan tahan lama menjadi makanan yang cocok dibawa sebagai bekal perjalanan. Penelitian Universitas Padjadjaran bahkan mengaitkan penyebaran rendang di Indonesia dengan budaya merantau tersebut.Relevansi dan Filosofi Masakan Rendang

Dari Sumatera Barat, makanan ini kemudian semakin dikenal di berbagai daerah seperti Riau, Jambi, dan wilayah Semenanjung Malaya. Mobilitas masyarakat Minangkabau membuat rendang tidak hanya menjadi makanan yang disantap di kampung halaman, tetapi juga ikut hadir di tanah rantau sumber: Muthia Nurmufida dkk.2017.Journal of Ethnic Foods.

Rendang dan identitas Minangkabau

Di dalam budaya Minangkabau, rendang kemudian memperoleh makna yang lebih dalam. Hidangan ini lazim hadir dalam acara adat dan kesempatan penting, sehingga pembuatannya bukan hanya persoalan memasak, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Proses memasaknya yang panjang juga sering dikaitkan dengan nilai seperti kesabaran, kebijaksanaan, dan ketulusan. Setiap tahap membutuhkan perhatian: memilih bahan, mengatur api, mengaduk santan, hingga menunggu kuah berubah menjadi kering dan kaya rasa.sumber: Muthia Nurmufida dkk.2017.Journal of Ethnic Foods.

Yang menarik, rendang juga terus beradaptasi dengan lingkungan. Di wilayah pesisir Sumatera Barat, misalnya, berkembang rendang lokan, yang menggunakan lokan sebagai bahan utama. Penelitian tentang rendang lokan melihat variasi ini sebagai bentuk kemampuan masyarakat Minangkabau menyesuaikan makanan dengan sumber daya alam di lingkungan tempat mereka tinggal, tanpa kehilangan identitas kulinernya.sumber: Siti Fatimah, dkk.2021.Journal of Ethnic Foods.

Dari makanan Minang menjadi makanan dunia

Perjalanan rendang tidak berhenti di tanah rantau. Pada abad ke-20, penyebarannya semakin luas melalui mobilitas masyarakat, media cetak, dan perkembangan komunikasi. Penelitian mengenai sejarah rendang mencatat bahwa surat kabar Soenting Melajoe, yang terbit sejak 1912, turut memuat resep dan membantu memperkenalkan makanan Minangkabau kepada pembaca di luar Sumatera Barat.sumber: Muthia Nurmufida dkk. 2017. Journal of Ethnic Foods.

Pada zaman modern, rendang kemudian dikenal jauh melampaui Indonesia. Popularitas internasionalnya semakin besar setelah CNN memasukkan rendang ke dalam jajak pendapat makanan terenak dunia pada 2011 dan kembali menempatkannya di posisi teratas pada 2017.sumber: FadlyRahman.2020.Journal of Ethnic Foods

Konten Lainnya

Sejarah Kuliner Sponge Cake: Dari Kocokan Telur hingga Kue Modern Awal mula di Eropa Sponge cake...