Sejarah Kuliner Rawon
Rawon merupakan hidangan berkuah dari Jawa yang saat ini sangat kuat diasosiasikan dengan Jawa Timur. Ciri utamanya adalah kuah berwarna hitam yang berasal dari kluwek (Pangium edule), dipadukan dengan daging—umumnya daging sapi—serta berbagai rempah. Dalam penyajiannya, rawon lazim ditemani nasi, tauge, sambal, kerupuk, telur asin, atau lauk pelengkap lainnya.sumber: journal of ethnic foods
Jejak sejarah rawon
Rawon memiliki sejarah yang panjang dalam tradisi kuliner Jawa. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Ethnic Foods pada 2024 menyebutkan bahwa rawon telah ada selama lebih dari seribu tahun. Penelitian tersebut juga membahas sejumlah sumber sejarah dan catatan kuliner untuk menelusuri perkembangan hidangan ini.sumber: journal of ethnic foods
Penelitian 2024 tersebut bahkan mengemukakan bahwa rawon pada masa awalnya berkaitan dengan hidangan kalangan kerajaan, sebelum kemudian berkembang menjadi makanan yang dapat dinikmati masyarakat luas. Saat ini rawon telah menjadi makanan yang mudah ditemukan di warung, rumah makan, dan restoran.sumber: journal of ethnic foods
Dari hidangan istana menjadi makanan masyarakat
Perkembangan rawon menunjukkan perubahan fungsi makanan dalam masyarakat Jawa. Hidangan yang pada masa tertentu dikaitkan dengan lingkungan elite atau kerajaan kemudian menyebar dan menjadi bagian dari kehidupan kuliner masyarakat umum.
Dalam perkembangannya, rawon memiliki hubungan yang kuat dengan wilayah Jawa Timur. Penelitian Budianta (2019) menyebut rawon sebagai kuliner khas Jawa Timur dan mencatat bahwa hidangan ini telah memiliki nilai historis serta nilai kenangan bagi masyarakat yang mengonsumsinya.sumber: Budianta, Tarsisius Dwi Wibawa(2019)
Rawon dan tradisi masyarakat Tengger
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat Rawon Nguling Probolinggo sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui SK Nomor 264/M/2018. Dokumentasi tersebut menyebutkan bahwa menurut sejarah yang dicatat dalam WBTB, rawon digunakan oleh masyarakat Tengger dalam rangkaian pesta atau hajatan.
Dalam konteks tersebut, rawon tidak hanya berfungsi sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan sosial dan perayaan masyarakat. Dokumentasi yang sama mencatat bahwa rawon kemudian berkembang menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur dan juga disajikan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Bromo.
Kluwek sebagai identitas rawon
Salah satu hal terpenting dalam sejarah perkembangan rawon adalah penggunaan kluwek sebagai bumbu penciri.
Biji kluwek memberikan warna hitam pada kuah sekaligus menghasilkan karakter rasa dan aroma yang khas. Penelitian Budianta menyebut kluwek sebagai bumbu penciri utama rawon, sedangkan penelitian Journal of Ethnic Foods juga menempatkan keluak sebagai penyebab utama warna hitam khas rawon.sumber: Budianta, Tarsisius Dwi Wibawa(2019) Perkembangannya, rawon semakin melekat dengan identitas kuliner Jawa Timur. Rawon tidak lagi terbatas pada acara tertentu, tetapi dapat dikonsumsi sehari-hari, baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam.
Rawon dalam budaya kuliner Jawa Timur
Seiring perkembangannya, rawon semakin melekat dengan identitas kuliner Jawa Timur. Rawon tidak lagi terbatas pada acara tertentu, tetapi dapat dikonsumsi sehari-hari, baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam.sumber: journal of ethnic foods
Selain itu, rawon berkembang dalam berbagai konteks kuliner. Ada rawon yang dijual di warung sederhana, rumah makan, hingga restoran. Setiap daerah dan tempat makan dapat memiliki karakter rasa yang berbeda, meskipun tetap mempertahankan unsur penting berupa kuah gelap dan penggunaan kluwek.
Apakah rawon berasal dari Jawa Timur?
Penelitian akademik 2024 menelusuri sejarah rawon melalui berbagai sumber, termasuk catatan sejarah, arsip, dan sumber pemerintah. Penelitian tersebut menyatakan rawon mempunyai sejarah lebih dari seribu tahun dan menghubungkannya dengan tradisi kuliner kerajaan, tetapi pembahasan asal-usulnya tetap harus dibaca sebagai hasil penelusuran sumber, bukan sebagai bukti bahwa satu daerah tertentu adalah satu-satunya tempat kelahiran rawon.sumber: journal of ethnic foods
Sementara itu, sumber pariwisata populer seperti Indonesia Travel mengaitkan keberadaan rawon dengan kerajaan-kerajaan Jawa kuno. Klaim semacam ini sebaiknya digunakan sebagai sumber pendukung, bukan satu-satunya dasar untuk menetapkan asal-usul historis rawon.sumber: Wonderful Indonesia
