Kuliner Bikang Mandar, Kue Tradisional Khas Masyarakat Mandar
Bagi masyarakat Mandar di Sulawesi Barat, makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu kuliner yang masih dapat ditemukan hingga sekarang adalah Bikang Mandar, kue tradisional yang sekilas menyerupai serabi, tetapi memiliki bentuk, tekstur, dan cara penyajian yang menjadi ciri khasnya sendiri.
Bikang dikenal memiliki permukaan berpori, ukuran yang lebih lebar dan cenderung tipis, dengan rasa gurih dari santan yang berpadu dengan manisnya gula merah cair. Keberadaannya masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Mandar, termasuk sebagai jajanan yang banyak dicari ketika bulan Ramadan.
Asal-Usul Bikang dalam Kuliner Masyarakat Mandar
Membicarakan sejarah Bikang Mandar tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Mandar yang mendiami wilayah Sulawesi Barat. Namun, sampai saat ini belum ditemukan sumber sejarah yang secara pasti menyebutkan kapan Bikang pertama kali dibuat atau siapa orang yang menciptakannya. Karena itu, sejarah Bikang lebih tepat dipahami melalui keberadaannya sebagai bagian dari tradisi kuliner masyarakat Mandar yang terus dipertahankan.
Salah satu bukti tertulis yang cukup tua mengenai istilah bikang dapat ditemukan dalam Kamus Bahasa Mandar-Indonesia karya Abdul Muthalib yang diterbitkan pada 1977 oleh Balai Bahasa Sulawesi Selatan. Kamus tersebut menjadi salah satu dokumentasi penting mengenai kosakata bahasa dan kehidupan masyarakat Mandar pada masa itu.
Istilah bikang sendiri tercatat dalam kamus tersebut sebagai nama penganan yang dibuat dari tepung beras atau tepung terigu, kemudian dicampur dengan santan dan gula. Catatan ini menunjukkan bahwa istilah dan makanan yang disebut bikang telah dikenal dalam lingkungan kebahasaan dan budaya Mandar setidaknya sejak dokumentasi tersebut diterbitkan.
Bikang Mandar dan Kemiripannya dengan Serabi
Bagi orang yang baru melihatnya, Bikang Mandar mungkin akan terlihat seperti serabi. Keduanya sama-sama menggunakan tepung beras dan santan sebagai bahan utama. Namun, Bikang yang dikenal di wilayah Mandar mempunyai bentuk yang lebih lebar dan sedikit lebih tipis dibandingkan serabi pada umumnya.
Permukaan Bikang juga memiliki banyak pori-pori. Setelah matang, bagian atasnya kemudian diberi siraman gula merah cair sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan tekstur yang lembut.
Memasak Bikang dengan Peralatan Tanah Liat
Salah satu hal menarik dari Bikang Mandar adalah penggunaan peralatan tradisional dalam proses pembuatannya. Adonan Bikang secara tradisional dimasak menggunakan wadah yang terbuat dari tanah liat atau tembikar yang telah dipanaskan terlebih dahulu.
Penggunaan peralatan tersebut bukan sekadar mempertahankan cara lama. Masyarakat Mandar meyakini bahwa memasak Bikang menggunakan peralatan tradisional dapat menghasilkan rasa yang lebih nikmat dibandingkan menggunakan peralatan modern seperti wajan.
Dalam sebuah penelitian mengenai kuliner tradisional Mandar, Bikang juga disebut dimasak di atas tungku berbentuk lingkaran yang dalam bahasa Mandar disebut panjepangan. Peralatan ini juga digunakan untuk memanggang Jepa, salah satu makanan tradisional Mandar.
Dari Adonan Tepung Beras hingga Bikang yang Berpori
Bahan dasar Bikang Mandar tergolong sederhana. Tepung beras dicampurkan dengan santan, kemudian adonan dimasak di atas wadah yang telah dipanaskan. Ketika mulai matang, permukaan Bikang akan berubah menjadi berpori dan tampak seperti memiliki banyak lubang kecil.
Pori-pori tersebut menjadi salah satu ciri yang mudah dikenali dari Bikang Mandar. Setelah matang, kue kemudian diberi gula merah cair yang meresap dan melengkapi rasa.
Bikang Mandar dalam Tradisi Berbuka Puasa
Salah satu momen ketika Bikang semakin mudah ditemukan adalah bulan Ramadan. Di Polewali Mandar, Bikang menjadi salah satu jajanan yang banyak dicari masyarakat untuk hidangan berbuka puasa.
Pada Ramadan 2022, salah seorang pembuat Bikang di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, mengatakan bahwa produksinya meningkat dari sekitar 50–100 buah per hari menjadi sedikitnya 200 buah per hari. Hal tersebut menunjukkan tingginya permintaan masyarakat terhadap Bikang selama bulan Ramadan.
Bikang sebagai Jajanan Tradisional Masyarakat Mandar
Bikang tidak hanya muncul pada waktu tertentu. Kue ini juga menjadi bagian dari jajanan tradisional yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandar.
Keberadaannya di pasar dan lingkungan masyarakat menunjukkan bahwa Bikang memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar makanan tradisional. Ia menjadi salah satu bentuk kuliner yang mempertemukan rasa, kebiasaan, dan kehidupan sosial masyarakat Mandar.
Mengapa Bikang Mandar Berbeda dari Bikang di Daerah Lain?
Nama bikang sebenarnya juga digunakan untuk berbagai jenis kue di daerah lain di Indonesia. Karena itu, Bikang Mandar tidak sebaiknya disamakan begitu saja dengan kue bikang dari daerah lain.
Bikang yang dikenal dalam tradisi Mandar mempunyai karakter berupa kue yang menyerupai serabi, berukuran lebih lebar dan tipis, memiliki permukaan berpori, serta umumnya disajikan dengan siraman gula merah. Cara memasaknya menggunakan peralatan tanah liat juga menjadi bagian penting dari karakter kuliner ini.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan zaman membuat banyak makanan tradisional mengalami perubahan, baik dalam bahan maupun cara pengolahannya. Namun, Bikang Mandar masih memperlihatkan hubungan yang kuat dengan cara pembuatan tradisionalnya.
Penggunaan tembikar dan tungku tradisional menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan kuliner lama masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat sekarang. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa resep makanan bukan hanya kumpulan bahan dan langkah memasak, tetapi dapat menyimpan pengetahuan mengenai lingkungan dan kebiasaan masyarakat yang membuatnya.
