Asal-Usul dan Perkembangan Pie Tape Singkong sebagai Kuliner Indonesia

Sejarah Kuliner Pie Tape: Perpaduan Tape Singkong Tradisional dan Pastry Modern

Pendahuluan

Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang berkembang dari pemanfaatan bahan pangan lokal. Salah satunya adalah tape singkong, makanan hasil fermentasi singkong yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Tape memiliki karakteristik rasa manis, sedikit asam, aroma khas fermentasi, serta tekstur yang lembut. Karakter tersebut membuat tape tidak hanya dikonsumsi secara langsung, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai makanan dan kue.sumber: Makanan Fermentasi Falkutas Teknologi Pertanian UGM.(2017)

Salah satu bentuk pengembangan tersebut adalah pie tape, yaitu makanan yang memadukan tape sebagai bahan atau isian dengan kulit pie yang renyah. Pie tape dapat dipandang sebagai contoh bagaimana bahan pangan tradisional Indonesia diolah menggunakan konsep pastry modern sehingga menghasilkan makanan dengan karakter yang berbeda dari tape pada bentuk aslinya.

Sejarah Tape sebagai Dasar Pie Tape

Untuk memahami munculnya pie tape, sejarahnya perlu dikaitkan terlebih dahulu dengan perkembangan tape singkong. Tape merupakan produk pangan yang dibuat melalui proses fermentasi bahan berkarbohidrat menggunakan ragi. Singkong yang telah dimasak kemudian diberi ragi dan diperam selama beberapa hari. Selama fermentasi, pati dalam singkong diuraikan menjadi gula sederhana dan selanjutnya menghasilkan berbagai senyawa yang memberikan rasa, aroma, dan tekstur khas pada tape.sumber: CHEMICA-jurnal ilmiah kimia dan pendidikan kimia.

Tape singkong telah lama menjadi bagian dari kuliner masyarakat Indonesia. Ketersediaan singkong yang melimpah membuat bahan ini banyak dimanfaatkan sebagai sumber pangan sekaligus diolah menjadi berbagai produk makanan. Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa singkong merupakan tanaman yang mudah tumbuh di Indonesia dan telah lama digunakan sebagai bahan pangan, termasuk untuk pembuatan tape.sumber: Makanan Fermentasi Fakultas Teknologi Pertanian UGM.(2017)

Di berbagai daerah, tape singkong juga memiliki nama dan karakter yang berbeda. Di Jawa Barat, misalnya, tape singkong dikenal sebagai peuyeum. Sementara itu, tape singkong juga berkembang sebagai produk rumah tangga dan makanan khas di berbagai wilayah Jawa, termasuk Jawa Timur. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tape bukan sekadar makanan fermentasi, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi pengolahan pangan masyarakat Indonesia.sumber: Kuliner Pasar Modern.

Perkembangan Tape Menjadi Berbagai Olahan

Seiring perkembangan kuliner, tape singkong tidak lagi hanya dimakan secara langsung. Sifat tape yang lembut, manis, dan memiliki aroma khas membuatnya mudah digunakan sebagai bahan tambahan dalam berbagai makanan. Tape dapat digunakan sebagai bahan campuran maupun isian pada kue dan makanan lainnya. Salah satu contohnya adalah penggunaan tape sebagai isian roti dan berbagai kudapan. Pemerintah Kabupaten Bantul juga mencatat bahwa tape singkong dapat diolah kembali menjadi berbagai makanan, salah satunya sebagai isian roti gabin.sumber: Kabupaten Bantel-Tape Singkong Watugedug.(2026)

Munculnya Pie Tape sebagai Perpaduan Kuliner

Pie tape merupakan salah satu bentuk pengembangan olahan tape singkong dengan menggunakan konsep pastry. Dalam perkembangannya, tape singkong tidak hanya dikonsumsi secara langsung, tetapi juga digunakan sebagai bahan dalam berbagai jenis kue. Salah satu contohnya adalah pie yang menggunakan tape singkong sebagai isian. IDN Times mencatat bahwa pie tape singkong telah banyak dijual sebagai salah satu oleh-oleh khas Bondowoso, Jawa Timur, yang dikenal sebagai daerah penghasil tape.

Baca juga: Resep Pie Tape Singkong

Penggunaan tape sebagai isian pie menunjukkan adanya perpaduan antara bahan pangan tradisional Indonesia dengan bentuk pastry modern. Dalam pembuatan pie tape, kulit pie dibuat dari bahan seperti tepung terigu, mentega atau margarin, gula, dan telur, sedangkan bagian isi menggunakan tape singkong yang dapat dipadukan dengan bahan lain seperti susu, santan, keju, atau bahan tambahan lainnya. Kombinasi tersebut menghasilkan tekstur yang berbeda, yaitu kulit pie yang renyah dengan isian tape yang lembut dan memiliki rasa manis serta sedikit asam khas hasil fermentasi.sumber: IDN TIMES – Natasha Wiyanti.(2022)

Nilai Budaya dan Inovasi Pie Tape

Pie tape menunjukkan bagaimana kuliner Indonesia dapat berkembang melalui perpaduan antara bahan lokal dan teknik pengolahan yang lebih modern. Tape tetap mempertahankan identitasnya sebagai makanan hasil fermentasi tradisional, tetapi penggunaannya sebagai isian pie membuatnya dapat diterima dalam bentuk makanan yang berbeda.

Inovasi seperti ini juga memiliki nilai penting dalam pengembangan pangan lokal. Bahan yang sebelumnya hanya dikenal sebagai makanan tradisional dapat memiliki nilai jual dan daya tarik baru ketika dikembangkan menjadi produk modern. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan tape singkong yang hingga saat ini masih diproduksi oleh masyarakat dan dimanfaatkan sebagai bahan berbagai jenis makanan.sumber: Kabupaten Bantul-Tape Singkong Watugedug.(2026)

Kesimpulan

Pie tape merupakan salah satu bentuk inovasi kuliner yang memadukan tape singkong sebagai warisan pangan fermentasi Indonesia dengan konsep pastry berupa pie. Meskipun sejarah khusus mengenai pencipta dan tahun kemunculan pie tape belum terdokumentasi secara jelas, keberadaannya dapat dipahami sebagai bagian dari perkembangan diversifikasi pangan dan kreativitas dalam mengolah tape singkong.

Dari singkong yang difermentasi secara tradisional, tape kemudian berkembang menjadi bahan berbagai kudapan. Penggunaannya sebagai isian pie memperlihatkan bahwa makanan tradisional dapat terus beradaptasi dengan perkembangan selera dan teknik kuliner modern tanpa kehilangan karakter bahan lokalnya.

Konten Lainnya